Tanya Jawab Hukum IslamSyarat Amal Yang Diterima

Download File Islami
File Islami
Tanya Jawab Terbaru
Kategori Tanya-Jawab
Our Network
Syarat Amal Yang Diterima Published on Tuesday, May 1, 2012 by

Pertanyaan : Kapan Allah menerima seseorang perbuatan? Apakah syarat untuk perbuatan agar menjadi benar dan dapat diterima oleh Allah?

Jawaban : Alhamdulillaah.

Sebuah perbuatan tidak dapat dianggap ibadah kecuali memenuhi dua hal : dengan sepenuh cinta (rodja, penuh harap, -pent) dan kerendahan hati (khauf, takut kepada Allah, -pent). Allah berfirman :

“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” [QS al-Baqarah 2:165]

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka” [QS al-Mu’minun 23:57]

Dan Allah menyebutkan keduanya di dalam ayat :

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas” [QS al-Anbiya’ 21:90]

Setelah hal ini kita fahami, maka kita akan menyadari bahwa ibadah hanya akan diterima dari seorang muslim yang percaya kepada Allah semata (Tauhid), sebagaimana firman Allah :

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan (orang-orang yang tidak beriman), lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” [QS al-Furqaan 25:23]

Dalam Shahih Muslim (214) diriwatakan dari ‘Aisyah radhiyAllahu ‘anha berkata : “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, pada masa jahiliyyah, Ibnu Jud’aan pernah menyambung silaturahmi dan memberi makan kepada oran yang miskin. Apakahhal itu bermanfaat baginya?’ Nabi bersabda, ‘Itu tidak akan bermanfaat baginya sebab dia tidak pernah berkata, “Ya Allah, ampuni dosa-dosaku pada hari kiamat kelak”" (yaitu, dia tidak percaya dengan hari kebangkitan dan tidak mengerjakan kebaikan dengan harapan untuk bertemu Allah).

Terlebih lagi, ibadah seorang muslim tidak akan diterima kecuali memenuhi dua syarat utama :

1 – Ikhlas kepada Allah semata, yang bermakna bahwa niat orang tersebut di dalam setiap perkataan dan perbuataannya, baik yang diluar maupun di dalam (hati, -pent), hanya untuk mencari ridho Allah semata, tidak selainnya.

2- Amal tersebut harus sesuah dengan syari’ah yang telah Allah tetapkan, dan dia tidak boleh melakukan ibadah dengan cara yang selainnya. Ini dicapai dengan mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan apa yang beliau bawa, dan menghindari apa pun yang bertentangan dengan hal tersebut, dan tidak meng-kreasikan bentuk ibadah yang baru dalam bentuk apa pun, yang tidak diriwayatkan dalam hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bukti  (dalil) dari kedua hal ini adalah ayat :

“ Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu apa pun dalam beribadat kepada Tuhannya” [QS al-Kahf 18:110]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata  ” ‘Maka barangsiapa berharap untuk berjumpa dengan Tuhan-nya’ bermakna ganjarannya; ‘maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih’ bermakna, yang sesuai dengan aturan (syari’at) Allahl; ‘dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu apa pun dalam beribadat kepada Tuhannya’ ini bermakna mengharap wajah Allah semata, tidak dengan mitra atau sekutu. Dua kondisi ini adalah dasar dari amal yang diterima, yaitu harus ikhlas untuk Allah semata, dan benar menurut syari’ah (aturan) dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

Diterjemahkan dari : www.islam-qa.com, pertanyaan nomor 13830