أَيُّمَا أَوْلَى مُعَالَجَةُ مَا يَكْرَهُ اللَّهُ مِنْ قَلْبِك مِثْلُ : الْحَسَدِ وَالْحِقْدِ وَالْغِلِّ وَالْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَرُؤْيَةِ الأَعْمَالِ وَقَسْوَةِ الْقَلْبِ ، وَغَيْرِ ذَلِكَ ، مِمَّا يَخْتَصُّ بِالْقَلْبِ مِنْ دَرَنِهِ وَخُبْثِهِ ؟ أَوْ الاشْتِغَالُ بِالأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ : مِنْ الصَّلاةِ وَالصِّيَامِ وَأَنْوَاعِ الْقُرُبَاتِ : مَنْ النَّوَافِلِ وَالْمَنْذُورَاتِ مَعَ وُجُودِ تِلْكَ الأُمُورِ فِي قَلْبِهِ ؟ أَفْتُونَا مَأْجُورِينَ .
Pertanyaan: Manakah yang lebih penting untuk didahulukan – yang berhubungan dengan perasaan dan pikiran yang Allah benci, seperti iri hati, dengki, kebencian, sombong, riya/pamer, sum’ah, memperlihatkan amalan, hati yang keras, dan perbuatan lainnya yang membentuk kejahatan dalam hati, atau berfokus pada melakukan perbuatan sunnah seperti shalat, puasa dan amalan ibadah lainnya dari amalan-amalan sunnah dengan masih adanya perkara-perkara buruk di hati? Mohon berikan kami saran, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
الحمد لله
مِنْ ذَلِكَ مَا هُوَ عَلَيْهِ وَاجِبٌ : وَأَنَّ لِلأَوْجَبِ فَضْلا وَزِيَادَةً ، كَمَا قَالَ تَعَالَى فِيمَا يَرْوِيه عَنْهُ رَسُولُهُ صلى الله عليه وسلم : { مَا تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْت عَلَيْهِ } ، ثُمَّ قَالَ : { وَلا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ } وَالأَعْمَالُ الظَّاهِرَةُ لا تَكُونُ صَالِحَةً مَقْبُولَةً إلا بِتَوَسُّطِ عَمَلِ الْقَلْبِ فَإِنَّ الْقَلْبَ مَلِكٌ وَالأَعْضَاءُ جُنُودُهُ ، فَإِذَا خَبُثَ الْمَلِكُ خَبُثَتْ جُنُودُهُ ; وَلِهَذَا قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : { أَلا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ } وَكَذَلِكَ أَعْمَالُ الْقَلْبِ لا بُدَّ أَنْ تُؤَثِّرَ فِي عَمَلِ الْجَسَدِ وَإِذَا كَانَ الْمُقَدَّمُ هُوَ الأَوْجَبُ [ سَوَاءٌ ] سُمِّيَ بَاطِنًا أَوْ ظَاهِرًا فَقَدْ يَكُونُ مَا يُسَمَّى بَاطِنًا أَوَجَبَ مِثْلُ تَرْكِ الْحَسَدِ وَالْكِبْرِ فَإِنَّهُ أَوَجَبَ عَلَيْهِ مِنْ نَوَافِلِ الصِّيَامِ وَقَدْ يَكُونُ مِمَّا سُمِّيَ ظَاهِرًا أَفْضَلَ : مِثْلُ قِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ أَفْضَلُ مِنْ مُجَرَّدِ تَرْكِ بَعْضِ الْخَوَاطِرِ الَّتِي تَخْطُرُ فِي الْقَلْبِ مِنْ جِنْسِ الْغِبْطَةِ وَنَحْوِهَا وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْ عَمَلِ الْبَاطِنِ وَالظَّاهِرِ يُعِينُ الآخَرَ وَالصَّلاةُ تَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَتُورِثُ الْخُشُوعَ وَنَحْوَ ذَلِكَ مِنْ الآثَارِ الْعَظِيمَةِ : هِيَ أَفْضَلُ الأَعْمَالِ وَالصَّدَقَةُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .” انتهى كلام شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله ( مجموع الفتاوى 6/381)
Jawaban: Alhamdulillah
Beberapa tindakan yang disebutkan adalah wajib, dan sesuatu yang wajib memiliki keutamaan dan harus lebih diutamakan, sebagaimana firman Allah sesuai dengan hadits qudsi diriwayatkan dari Rasul-Nya -shallallahu alaihi wa sallam-: “Hamba-Ku tidak mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih dicintai oleh-Ku dari ibadah yang aku wajibkan kepadanya.” Lalu Ia berfirman: ” Dan hamba-Ku terus mendekat kepada Ku dengan amalan yang lebih [amalan tambahan] sehingga Aku akan mencintainya “. Dan amalan zahir tidak sah dan tidak dapat diterima kecuali jika disertai dengan tindakan yang tepat dari hati, karena hati adalah seperti raja dan anggota tubuh seperti pasukannya. Jika raja itu jahat pasukannya juga akan jahat.
Oleh karena itu Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- berkata: “Sesungguhnya di dalam tubuh ada sekerat daging. Jika ia sehat maka seluruh tubuh akan menjadi sehat dan jika ia rusak maka seluruh tubuh akan rusak.” Demikian pula dengan amalan hati pasti mempengaruhi amalan fisik. Jadi prioritas harus diberikan kepada yang lebih wajib, apakah itu zahir atau batin. Dan hal-hal yang disebut batin mungkin lebih wajib, seperti menahan diri dari hasad yang merusak dan arogansi.
Dan terkadang amalan lahiriah atau fisik mungkin lebih baik, Qiyamul Lail, yang lebih baik dari sekedar mengenyahkan beberapa pikiran yang mungkin terlintas dalam pikiran seseorang seperti kecemburuan, dan semacamnya. Setiap perbuatan zahir dan batin mendukung satu sama lain, dan shalat mencegah seseorang dari melakukan tindakan kejahatan dan menghasilkan ketakutan akan Allah. Dan shalatadalah yang terbaik dari perbuatan baik dan sedekah. Wallahu a’lam. [Majmu' Al-Fatawa: 6/38]
فلا فصل بين صلاح الباطن وإصلاح الظاهر .
والعبادات الظاهرة التي يمارسها الإنسان بجوارحه فإنها – إذا أراد بها وجه الله – تؤثر إيجاباً في باطنه ولا شك .
ومن أمثلة ذلك قول النبي صلى الله عليه وسلم : ” أَلا أُخْبِرُكُمْ بِمَا يُذْهِبُ وَحَرَ الصَّدْرِ صَوْمُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْر ” رواه النسائي (2386) وصححه الألباني في صحيح النسائي (2249)
Maka tidak ada pemisahan antara cakapnya batin dan cakapnya zahir. Dan amalan-amalan ibadah yang zahir, jika seorang manusia terbiasa melakukannya dengan anggota tubuh dengan menginginkan keridhaan Allah, maka itu akan memberikan efek positif bagi batinnya [hatinya] tanpa keraguan.
Contohnya adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah: ‘Ku kabarkan pada kalian amalan yang menjauhkan diri dari keburukan dalam dada: Puasa 3 hari di setiap bulan.” [H.R. Nasa'i: 2386, disahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih An-Nasaa'i: 2249]
ومن العلاجات المهمة لأمراض القلب التدبر والتفكر في نصوص الوعيد على من ترك هذه الأمراض ترتع في قلبه كقول النبي صلى الله عليه وسلم : ” لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرةٍ من كبر ” رواه مسلم (91) .
وحديث : ” يُحشر المتكبرون يوم القيامة أمثال الذر في صور الرجال ” رواه الترمذي (2492) وحسنه الألباني في صحيح الترمذي (2025) .
Salah satu solusi atau penyembuh yang paling penting untuk penyakit hati adalah mempelajari, mentadabburi dan merenungkan teks-teks yang meliputi peringatan kepada orang yang membiarkan penyakit-penyakit ini bercokol di hatinya, seperti hadits di mana Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- berkata: “Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebiji atom dari kesombongan.” [HR. Muslim: 91].
Dan dalam hadits: “Pada Hari Kebangkitan orang-orang sombong akan dikumpulkan seperti semut -semut dalam bentuk manusia.” [HR. al-Tirmidzi: 2492; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi: 2025].
وقول النبي صلى الله عليه وسلم : ” دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمْ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ لا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلا أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثَبِّتُ ذَاكُمْ لَكُمْ أَفْشُوا السَّلامَ بَيْنَكُمْ ” رواه الترمذي (2510) وحسنه الألباني في صحيح الترمذي (2038)
Nabi -shallallahu alaihi wa sallam – bersabda: “”Telah menyebar di antara kalian penyakit umat-umat yang datang sebelum kalian : iri hati dan kebencian yang mencukur. Saya tidak bermaksud bahwa itu bisa mencukur rambut tetapi itu semua mencukur agama. Demi Dzat yang di jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mengasihi. Kuberitahu pada kalian sesuatu yang jika kalian melakukannya, Anda akan saling mengasihi. Tebarkan salam di antara diri kalian “[HR. al-Tirmidzi: 2510; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi: 2038].
فمن تأمل بعين البصيرة مثل هذا الوعيد على هذه الأمراض القلبية فإنه ولا شك سيجاهد نفسه في تطهير قلبه منها ، ويستعين على ذلك بأعمال الجوارح ويدعو ربه أن ينقي قلبه من الغلِّ والحسد والحقد وغيرها كما قال تعالى عن دعاء المؤمنين : { ولا تجعل في قلوبنا غلاً للذين آمنوا } .
Siapapun yang merenungkan dengan mata bashirah perihal ancaman atas penyakit-penyakit hati ini, pasti akan berusaha untuk membersihkan hatinya dari hal-hal tersebut, dan akan meminta bantuan dalam melakukannya dengan melakukan amalan dengan anggota tubuh, berdoa kepada Rabb-nya untuk membersihkan hatinya dari kebencian, iri hati yang merusak, dendam dan sebagainya, sebagaimana firman Allah, menggambarkan doa orang-orang beriman: “Dan janganlah Kau jadikan kebencian ada di dalam hati kita terhadap mereka yang telah beriman.” [QS Al-Hasyr: 10]
Wallahu a’lam
http://islam-qa.com/ar/ref/21673