Tanya Jawab Hukum IslamApakah Termasuk Mencela Waktu, Do’a : “Ya Allah Berikan Hari Buruk Untuk Mereka”

Download File Islami
File Islami
Tanya Jawab Terbaru
Kategori Tanya-Jawab
Our Network
Apakah Termasuk Mencela Waktu, Do’a : “Ya Allah Berikan Hari Buruk Untuk Mereka” Published on Saturday, April 28, 2012 by

Pertanyaan:apakah do’a “Ya Allah berikan hari yang buruk bagi mereka” termasuk mencela waktu?

Jawaban : Alhamdulillaah.

Pertama, do’a ini tidak diriwayatkan dari mana pun, kami tidak menemukannya dalam quran ataupun hadits.

Kedua, tidak adalah salahnya menggunakan kalimat ini di dalam do’a dan hal itu tidak termasuk ke dalam mencela waktu. Yang dimaksud dengannya adalah mendeskripsikan hari sebagai sebuah hari yang berat dan penuh tekanan. Hal ini seperti perkataan Nabi Luth (‘alaihis salaam) : “ini adalah hari yang sangat sulit” [QS Huud : 77].

Itu juga seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala (artinya) : ”Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus” [QS Al-Qamar : 19]

“Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial,…” [QS Fushshilat : 16]

Dan ada juga beberapa ayat serupa yang mendeskripsikan atau berbicara tentang kesulitan dan penderitaan tetapi tidak dimaksudkan untuk mencela waktu atau mengkritisinya. Ada perbedaan antara sekedar memberi tahu dan berminat untuk mencela

Lebih dari itu, mendeskripsikan sebuah hari sebagai “buruk” tidak berarti bahwa hari itu buruk bagi setiap orang, akan tetapi yang dimaksud adalah hari tersebut hanya buruk bagi mereka karena apa yang mereka alami (dengan takdir dari Allah) berupa hukuman dan kesulitan.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata :

Tidak diragukan bahwa hari di mana Allah menurunkan hukuman kepada musuhNya dan kepada musuh rasulNya adalah hari musibah untuk mereka, sebab keburukan menimpa mereka, akan tetapi hari tersebut adalah baik untuk wali-walinya yang beriman. Jadi hari-hari tersebut adalah hari sial untuk orang-orang yang kafir, dan hari yang beruntung untuk orang yang beriman.

Hal ini seperti kejadian di hari kiamat, hari itu akan sulit untuk orang kafir dan akan menjadi hari musibah untuk mereka, tetapi akan mudah untuk orang yang beriman dan menjadi hari yang menyenangkan untuk mereka.

Mujahid berkata : “Hari tanda syaithan” merupakan hari musibah… Dan terkait dengan nasib baik dan nasib buruk, nasib baik terkait dengan perbuatan baik yang membuat Allah Ridha, dan nasib butuk terkait dengan perbuatan yang bertenrangan dengan apa yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Satu hari boleh jadi baik bagi sebagian orang, dan menjadi hari yang buruk bagi orang yang lain, sebagaimana hari Badr adalah hari yang baik bagi orang-orang yang beriman dan hari yang buruk untuk orang-orang yang kafir” [Miftaah Dar al-Sa‘aadah, 2/194]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata :

Mencela waktu terbagi tiga :

1. Di mana itu hanyalah sebuah pernyataan semata, tanpa mengandung rasa tidak puas. Hal ini diperbolehkan. Seperti contohnya seseorang dapat berkata, “Panasnya atau dinginnya hari ini tidak tertahankan”, dan yang semisalnya. Hal itu dikarenakan perbuatan dihukumi berdasar niatnya, dan kata-kata seperti itu hanyalah sebuah pernyataan (bukan ketidakpuasan). Contoh lainnya adalah perkataan Nabi Luth, ”ini adalah hari yang sangat sulit” [QS Huud : 77]

2. Mencela waktu seakan waktu itu adalah penyebab, seperti saat mencela waktu percaya bahwa waktu itu sendirilah yang merubah keadaan, atau menentukan apa yang baik dan apa yang buruk. Ini adalah kesyirikan karena ini merupakan sikap percaya bahwa ada pencipta selain Allah, sebab perbuatan seperti itu menyandarkan sesuatu (kesialan dan kebaikan, -pent) kepada sesuatu selain Allah. Siapa saja yang percaya bahwa di sana ada Tuhan selain Allah adalah orang kafir, sebagaimana seseorang yang percaya bahwa ada Tuhan yang layak disembah selain Allah juga merupakan seorang kafir.

3. Mencela waktu tidak dikarenakan percaya bahwa waktu itu adalah penyebab (kesialan, -pent), yaitu dia percaya bahwa Allah yang menentukan sesuatu, akan tetapi dia mencela waktu karena dalam waktu tertentu tersebut hal yang tidak disukainya terjadi. Hal ini adalah haram, walaupun hal itu tidak sampai termasuk syirik, dan hal itu adakah pemikiran yang bodoh dan penyimpangan dari agama, karena faktanya saat dia mencela waktu maka dia mencela Allah Ta’ala. Hal ini karena Allah Ta’ala adalah yang mengontrol waktu dan yang menentukan apa yang akan terjadi di dalamnya baik ataupun buruk. Jad, waktu bukanlah penyebab, dan mencela waktu (dalam kasus ini, -ed) tidak menyebabkan menjadi kufur kaena dia tidak mencela Allah Ta’ala secara langsung.” [Majmu‘ Fataawa asy-Syaikh Ibn ‘Uthaymeen, 10/823]

Allahu A’lam.

Diterjemahkan dari : www.islam-qa.com, pertanyaan 143212